Sabtu, 04 Juli 2009

Gelatik Jawa : Merebak di Negeri Seberang, Musnah di Negeri Sendiri ?

Mengenal Gelatik Jawa (Padda oryzivora; Rice Finch; Java Sparrow) akan sangat lebih mudah dengan melihat secara langsung. Siapa sangka, burung seukuran burung Gereja ini merupakan burung endemik Jawa dan Bali. Dari nama ilmiahnya, Padda berasal dari bahasa Cina yang berarti butiran padi. Oryzivora berasal dari bahasa Latin yang terdiri dari dua kata, yaitu oryza dan vorus. Oryza adalah genus padi domestik sedangkan vorus berarti memakan. Jadi arti secara umum dari Padda oryzivora adalah burung pemakan butiran padi. Sesuai dengan namanya, makanan utama bagi Gelatik Jawa adalah padi, sehingga berpotensi menjadi hama bagi para petani. Namun, ketika petani tidak menanam padi dan mengganti dengan tanaman lainnya seperti palawija, burung ini mampu mengubah menu makan mereka menjadi pemakan serangga, buah-buahan, dan biji-bijian (jagung dan rumput).
Satwa berbulu ini mempunyai paruh merah, kepala hitam dengan bercak putih mencolok pada pipi, dada abu-abu, perut merah jambu, ekor bawah hitam, dan ekor putih yang indah. Warna kontras dari bulu – bulunya menjadikan pemakan padi ini disukai dan sangat mudah dikenali. Gelatik Jawa menjadi burung favorit untuk dipelihara bukan saja di Indonesia tapi di Jepang, Timur Tengah, Eropa, dan Amerika. Bahkan, burung berpenampilan lucu ini sejak lama sukses diintroduksi dan dinaturalisasi di Asia Tenggara, Jepang, Cina, Amerika, Kanada, Pulau Hawaii, Australia, dan beberapa tempat di Afrika.

Status dan Ancaman bagi Gelatik Jawa
Burung dengan sifat sosial ini memiliki kebiasaan mencari makan, bertengger, dan bersarang dalam kelompok besar, sehingga di masa lalu, burung ini merupakan hama dan musuh besar bagi para petani. Ironisnya, saat ini Gelatik Jawa justru sangat jarang ditemukan di Jawa dan Bali. Bahkan dimasukan dalam International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Redlist dengan status Vulnerable atau Rentan (artinya : terjadinya penurunan populasi lebih dari 50 persen selama 20 tahun atau lima generasi, daerah sebaran kurang dari 20 ribu km2, luas daerah yang ditempati kurang dari 2000 km2, peluang untuk punah 10% dalam kurun waktu 100 tahun). Akan tetapi burung dengan tingkah lucu ini belum termasuk jenis burung yang dilindungi oleh Pemerintah Republik Indonesia.
Tingginya perburuan dituding sebagai penyebab utama dari berkurangnya burung endemik Jawa ini. Perburuan terhadap Gelatik Jawa masih terus terjadi, dengan cara menjaring ataupun menjebak di tempat mereka bersarang dan mencari makan. Selama masih adanya permintaan pasar atas burung ini, perburuan tidak akan berhenti. Penyebab lain adalah terkontaminasinya biji padi dengan pestisida, sehingga membuat telur burung gelatik mudah pecah. Semakin meningkatnya penggunaan lahan untuk permukiman juga menjadi salah satu faktor menurunnya populasi burung gelatik ini. Pemakaian lahan produktif bagi perumahan telah memicu penyusutan area persawahan yang menjadi sumber pakan utama bagi Gelatik Jawa. Kompetisi dengan Burung Gereja dalam mendapatkan tempat bersarang juga diduga mempersempit kemampuan reproduksi Gelatik Jawa.

Perkembangbiakan
Gelatik Jawa teramati bersarang di lubang pohon, celah bangunan, gua (kawasan karst), dan candi (komplek Candi Prambanan). Burung ini mampu bersarang di tempat yang jauh dari lokasi dimana tanaman padi melimpah, seperti di kawasan karst, ladang kering, dan hutan (akasia dan jati) di dataran rendah. Informasi mengenai perkembangbiakan Gelatik Jawa di Pulau Jawa dan Bali berasal dari penangkaran, sedangkan informasi di alam masih sebatas waktu berkembang biaknya.

Distribusi Gelatik di Jawa dan Bali
Populasi Gelatik Jawa di Jawa Barat dapat dijumpai di kota Bogor, Jakarta, Depok, Sukabumi, Cianjur, Cibodas, Bandung, Banjar, dan Cirebon. Di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, burung ini terdapat di Purworejo, Kutoarjo, Brebes, Magelang, Kodya Yogyakarta, Prambanan, Gunung Kidul, Semarang, Solo, Jepara, dan Wonogiri. Di Jawa Timur, burung endemik ini dapat ditemukan di Malang, Kediri, Gresik, Surabaya, dan T.N. Baluran. Di Bali, kita dapat menjumpainya di Kuta, Denpasar, Ubud, Tanah Lot, Ulu Watu, Buleleng, dan Nusa Dua.

Pertemuan dengan Gelatik Jawa di Jogjakarta
Daerah Istimewa Jogjakarta diyakini memiliki populasi Gelatik Jawa yang cukup besar di masa lalu, khususnya di Gunung Kidul. Hal ini dapat tercermin dari pemberian nama pada lokasi tertentu seperti Gua Gelatik dan Pulau Gelatik. Meski tidak sebanyak burung pipit, sekarang burung ini masih dapat dijumpai di kawasan persawahan Kepurun, Candi Prambanan, Jothak, Gupak Warak, Gua Maria Tritis, Gua Mandung, dan Hotel Melia Purosani.
Kawasan karst merupakan lingkungan keras bagi burung Gelatik, namun ruang kecil di tebing kapur dan gua ternyata telah menjadi tempat nyaman bagi burung tersebut untuk berkembangbiak. Pulau Gelatik, Song Dawung, Song Kandang, Jothak, Gupak Warak, Gua Maria Tritis, dan Gua Mandung adalah sederet nama di kawasan Gunung Kidul yang telah lama diketahui sebagi lokasi bersarang. Keberadaan mereka telah lama menjadi sasaran para pemburu burung. Aktivitas pengambilan anakan di sarang maupun penjebakan individu dewasa di lahan pertanian terus mengancam kelangsungannya. Penurunan jumlah secara kualitatif sudah terasa di beberapa tempat, bahkan di Pulau Gelatik sudah sulit dijumpai lagi.
Candi Prambanan selain menjadi kawasan cagar budaya, juga telah menjadi tempat berlindung dan bersarang puluhan Gelatik Jawa. Keberadaan burung endemik ini relatif terlindungi karena aktivitas perburuan dalam kawasan dilarang oleh pihak pengelola. Akan tetapi, penggunaan bangunan candi sebagai tempat bersarang burung telah menimbulkan masalah bagi PT Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan dan Ratu Boko (PT TWCBP) dan Dinas Arkeologi Yogyakarta. Kotoran dan sarang Gelatik Jawa dianggap dapat melapukkan batuan candi, sehingga secara periodik petugas kebersihan candi membersihkan sarang. Ancaman tidak hanya di lokasi bersarang karena di luar komplek candi, burung Gelatik Jawa menjadi sasaran perburuan dengan menggunakan jaring maupun jebakan diletakkan di persawahan.
Salah satu breeding site alias tempat bersarang bagi Gelatik Jawa yang relatif aman adalah Hotel Melia Purosani. Perjumpaan di kawasan Hotel Melia Purosani pada bulan November 2004 merupakan temuan pertama bagi Gelatik Jawa di wilayah Kotamadya Jogjakarta. Penemuan ini bersamaan dengan tahun keberhasilan didapatkannya sertifikasi Green Globe oleh pihak hotel. Sertifikat ini menjadi tanda bahwa hotel tersebut memiliki komitmen untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan dalam aktivitasnya. Keberadaan burung endemik di kawasan hotel benar – benar menggembirakan karena burung ini tidak hanya sekedar singgah. Burung berparas lucu ini menggunakan pohon cemara sebagai tempat beristirahat dan memakai celah di bawah atap gedung untuk bersarang.
Pihak pengelola hotel ternyata tertarik dengan upaya melestarikan Gelatik Jawa khususnya dalam kawasan Hotel Melia Purosani. Upaya untuk menjaga agar burung ini betah dan terus berkembang biak telah diawali bekerjasama dengan para pengamat burung di Jogja. Kerjasama dalam bentuk pengamatan secara periodik disusul dengan desain papan interpretasi bagi tamu, birdfeeder dan nest box diharapkan dapat meningkatkan jumlah Gelatik Jawa di hotel tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar